This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, 11 November 2016

Suku Di Sumatera Utara

Tak sebagian dari anda mengetahui nama-nama suku yang mendiami wilayah Sumatera Utara. Pada kali ini, Suku Dunia akan berbagi pengetahuan akan keragaman Suku yang berada di Provinsi ini.

suku-di-sumatera-utara

Suku Batang Angkola

Nama Angkola itu sendiri merupakan nama yang diambil dari nama sungai batang Angkola atau batang sungai. Nama ini diberi oleh Rajendra Kola penguasa pada saat itu. Suku Batak Angkola dikenal beberapa marga, yakni Hasibuan, Rambe, Siregar, Harahap, Daulay, Ritonga, Hutashut, dan Tanjung.

Suku Batak Karo

Orang karo atau Batak karo adalah salah satu sub-suku bangsa Batak. Mereka mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu dan sebagian daerah Dairi. Wilayah mereka sekarang termasuk bagian dari Kabupaten Karo. Jumlah populasinya sekitar 300.000 jiwa mendiami daerah seluas kira-kira 5.000 kilometer persegi. Menurut sensus tahun 1930 orang Karo berjumlah sekitar 120.000 jiwa, pada sensus tahun 1963 menjadi sekitar 154.000 jiwa dan pada tahun 1972 berjumlah sekitar 370.000 jiwa. Sekarang diperkiraan hampir satu juta jiwa, termasuk orang Karo yang tersebar di berbagai daerah.
Baca lengkap : Sejarah Suku Batak Karo

Suku Batak Mandailing

Nama Mandailing diambil dari kata Mandala dan Holing yang merupakan sebuah wilayah Kerajaan Kalinga yang berdiri sebelum kerajaan sriwijaya. Suku Mandailing ini sendiri mendiami beberapa daerah di Sumatera Utara, yakni, Mandailing Natal, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Labuhanbatu, Tapanuli Selatan, Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Batubara, dan di Asahan.

Suku Batak Pakpak

Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Dairi merupakan sebagian besar wilayah yang ditinggali oleh Suku Batak Pakpak. Sementara itu asal usul suku ini dipercaya berasal dari Kerajaan Chola di India yang pernah menyerang Kerajaan Sriwijaya pada abad 11 M.

Suku Batak Simalungun

Orang Simalungun atau Batak Simalungun adalah suku bangsa Batak. Mereka mendiami daerah Simalungun yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Simalungun, dan sebagian lagi di Kotamadya Pematangsiantar. Jumlah populasinya sekitar 891.000 jiwa.

Suku Batak Toba

Orang Toba atau Batak Toba berdiam di daerah sekitar Danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, Silindung, Sekitar Barus dan Sibolga sampai ke daerah pegunungan Bukit Barisan antara Pahae dan Habinsaran di Sumatera Utara. Daerah tersebut sekarang termasuk dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. Jumlah populasinya sekarang sekitar 700.000 jiwa. Sebagian dari mereka banyak yang merantau ke berbagai daerah lain di Indonesia.
Baca lengkap : Sejarah Suku Batak Toba

Suku Melayu Langkat

Orang Melayu ini mendiami daerah sepanjang pesisir timur pulau Sumatera, mulai dari daerah Langkat di utara sampai ke Labuhan Batu di selatan. Dari daerah pantai sampai ke perbukitan dekat kaki Pegunungan Bukit Barisan. Mereka bermukim di sekitar Kotamadya Medan, Binjai, Tebingtinggi dan Tanjung Balai. Sebagian lagi di Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Asahan dan Labuhan Batu, di Provinsi Sumatera Utara. Untuk membedakan diri dengan kelompok suku bangsa melayu lain mereka lebih suka menyebut kelompoknya sebagai orang Melayu Deli atau Melayu Langkat. Jumlah populasinya sukar dihitung dengan pasti, hanya diperkirakan berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa lebih. Di daerah-daerah tersebut pemukiman mereka berbaur dengan suku-suku bangsa lain, seperti dengan orang Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Nias, Minangkabau, Aceh, Jawa dan lain-lain.

Suku Nias

Suku bangsa Nias mendiami Pulau Nias yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Bersama dengan beberapa pulau kecil di sekitarnya daerah ini sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara. Penduduk asli pulau itu menamakan diri mereka Ono Niha, artinya "anak manusia", dan menyebut pulau mereka Tano Niha, artinya "tanah manusia". Populasi suku bangsa ini diperkirakan berjumlah sekitar 480.000 jiwa. Sedangkan yang lain adalah para pendatang, seperti orang Batak, Aceh, Minangkabau dan Cina.

Thursday, 10 November 2016

AWAL MULA SUKU BUGIS SULAWESI

TRADISI SUKU BUGIS 


Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.
La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan
Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.
Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)
Masa Kerajaan Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue.
Kerajaan Makassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar kemudian terpecah menjadi Gowa dan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar.
Kerajaan Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.
Kerajaan Wajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo.
Konflik antar Kerajaan
Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru.
Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut “tellumpoccoe”.
Penyebaran Islam
Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.[2]
Kolonialisme Belanda
Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang tidak sudi berada dibawah Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan benteng Somba Opu luluh lantak. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.
Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-6 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Bugis-Makassar baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.
Masa Kemerdekaan
Para raja-raja di Nusantara bersepakat membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Bugis-Makassar adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.
Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.
Bugis Perantauan
Kepiawaian suku Bugis-Makasar dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.
Penyebab Merantau
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.
Bugis di Kalimantan Selatan
Pada abad ke-17 datanglah seorang pemimpin suku Bugis menghadap raja Banjar yang berkedudukan di Kayu Tangi (Martapura) untuk diijinkan mendirikan pemukiman di Pagatan, Tanah Bumbu. Raja Banjar memberikan gelar Kapitan Laut Pulo kepadanya yang kemudian menjadi raja Pagatan. Kini sebagian besar suku Bugis tinggal di daerah pesisir timur Kalimantan Selatan yaitu Tanah Bumbu dan Kota Baru.
Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis.

Suku Baduy Banten

Video Youtube Suku Baduy 

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).



Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek a–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.


Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.



Ada versi lain dari sejarah suku baduy, dimulai ketika Kian Santang putra prabu siliwangi pulang dari arabia setelah berislam di tangan sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan sang prabu beserta para pengikutnya. Di akhir cerita, dengan 'wangsit siliwangi' yang diterima sang prabu, mereka berkeberatan masuk islam, dan menyebar ke penjuru sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Dan Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah lebak (baduy sekarang), dan bersembunyi hingga ditinggalkan. Lalu sang prabu di daerah baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi. Dan di baduy dalamlah prabu siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga nanti akan terjadi perang saudara antara mereka dengan kita yang diwakili oleh ki saih seorang yang berupa manusia tetapi sekujur tubuh dan wajahnya tertutupi oleh bulu-bulu laiknya monyet.dan ki saih ini kehadirannya di kita adalah atas permintaan para wali kepada Allah agar memenangkan kebenaran.



Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)



Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan.



Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.



Baduy Luar
Baduy Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam.
Penyebab
Mereka telah melanggar adat masyarakat Baduy Dalam.
Berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam
Menikah dengan anggota Baduy Luar


Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam.
Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.



Baduy Dalam

Baduy Dalam adalah bagian dari keseluruhan Suku Baduy. Tidak seperti Baduy Luar, warga Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.
Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Baduy Dalam antara lain:
Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun)
Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)Menggunakan Kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.


Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat)



Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.



Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.



KECANTIKAN GADIS SUKU DAYAK KALIMANTAN

Mungkin selama ini kita menganggap suku asli Kalimantan ini adalah masyarakat yang tertinggal dan tak terawat. Tapi siapa sangka kalau Suku Dayak pun memiliki gadis-gadis yang cantik dan rupawan.Nggak percaya! Mungkin gambar-gambar di bawah bisa menjadi jawabannya!


Video cantinya Gadis Dayak Kalimantan








































































































Nah, bagaimana gan, cantik kan gadis suku dayak di atas, walau mereka tinggalnya di pedalaman, akan tetapi tetap tubuh dan wajah mereka terawat. Tentunya perawatan yang alami, dari alam :)


Kisah Dibalik Kecantikan Gadis Dayak Kalimantan


Suku dayak merupakan suku terbesar yang ada di kalimantan. Dimanapun berada, selama ada di kalimantan maka anda akan menjumpai suku dayak. Walaupun saat ini masih saja ada yang mengira bahwa banyak suku dayak tinggal di pedalaman, namun jika anda pernah ke kalimantan maka anda akan menjumpai suku dayak hadir di kota-kota besar tidak hanya ada di daerah terpencil.

Berbicara tentang suku dayak, maka tak akan pernah lupa dengan sosok wanita-wanita yang ada di pulau borneo. Ya, kecantikan gadis dayak yang mempesona yang membuat banyak pria luar kalimantan sering dibuat jatuh cinta. Kecantikan gadis kalimantan memang terlihat natural karena memang sudah dari jaman dahulu gadis dayak memiliki kulit yang putih dan bersih.

Ada sedikit cerita mengapa gadis dayak memiliki kecantikan natural, Yoechua Blog akan mengulasnya di tulisan saya ini.

Ada 2 versi yang akan saya jelaskan yaitu versi cerita nenek moyang dan cerita asal usul suku dayak yang akan menggambarkan kecantikan gadis dayak.


Cerita Nenek Moyang
Di desa saya, memang di huni secara mayoritas oleh orang dayak yang tentunya , mereka semua memiliki kebun karet dimana, karet menjadi komuditas utama bagi masyrakat dayak di desa saya, termasuk nenek saya sendiri yang juga orang dayak. Bagi seorang pekerja di kebun karet hanya membutuhkan waktu yang cukup sedikit untuk bekerja , nenek saya sendiri bekerja jam 5 subuh hingga jam 8 pagi untuk memanen karet.

Konon kabarnya, pada jaman dahulu karena tingkat pekerjaan suku dayak yang seperti itulah, maka jarang sekali terkena sinar matahari yang berlebihan sehingga membuat banyak keturunan dayak memiliki kulit yang putih dan bersih.

Apakah ini kebenarannya? saya pikir ini hanya mitos yang ada di suku dayak yang telah ada turun temurun di keluarga saya secara khususnya.

Certia Asal Usul
Jika anda pernah ke kalimantan, maka anda tak heran jika menyebut gadis dayak mirip dengan orang tionghoa karena sebagian besar gadis dayak secara khusus adalah dayak kalimantan timur memang memiliki tingkat kemiripan yang menyerupai dengan orang tionghoa. Karena jika di lihat dari asal usulnya, maka suku dayak memang memilki garis keturunan dengan orang tionghoa, tepatnya sekitar pada tahun 3.000 - 1.500 sebelum masehi terjadi sebuah migrasi besar-besaran dari provinsi Yunan menuju ke asia tenggara yaitu Indonesia ( kalimantan).

Itulah 2 kisah dibalik kecantikan gadis dayak berupa mitos dan fakta, namun yang paling penting dari semua itu adalah bagiamana gadis dayak yang memiliki kecantikan secara fisik tersebut dapat dibarengi dengan kecantikan sikap dan hati yaitu sopan santun dan tata krama.

Potret kehidupan Suku Dayak di Borneo

Kemungkinan pemahaman kata daya sama dengan kata manusia gunung, karena sebagian besar orang Dayak berada di daerah sungai yang tanah bergunung-gunung. Tapi itu tidak berarti bahwa kata Dayak berarti orang gunung.
Selain nama Dayak, kita tahu ini juga adalah istilah ini merujuk kepada Dayak dalam arti suku Dayak. Istilah Dayak diberikan oleh Inggris kepada suku-suku Dayak di Kalimantan Utara.
Dayak Kalimantan tersebar di seluruh Pulau Borneo, hidup di hulu sungai, di pegunungan, lembah, dan kaki. Merujuk mempunyai identitas berdasar tempat asal mereka sesuai nama-nama sungai besar yang ditempati.
Sebagai contoh, berasal dari daerah sungai Barito, mereka menyebut diri mereka Uluh Barito, demikian juga dari daerah aliran sungai Kahayan, uluh kahayan. Ada uluh Kapuas, uluh Katingan, dan seterusnya. Uluh itu berarti orang.
Di antara masyarakat Dayak sendiri, ada keberatan memakai istilah Dayak, sehingga muncul istilah lain untuk Dayak, yaitu “Daya”, yang sedang populer di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Selain istilah Daya, kata Daya Sahawung diabadikan sebagai komplek pelajar di Kuala Kapuas, yang namanya adalah komplek Pelajar Sahawung.

 Sebutan Dayak, adalah istilah umum untuk orang-orang yang mendiami pulau Kalimantan. Bahkan di seluruh Indonesia, setiap orang yang mendengar Suku Dayak, tentunya pandangan akan tertuju ke salah satu suku yang mendiami Kalimantan.

Video kehidupan suku dayak


Lalu apakah arti dari kata Dayak? C. K. rahmat dan R. Sunardi, mengatakan bahwa kata ‘Dayak’ adalah satu kata nama untuk orang-orang yang tinggal di pulau Kalimantan dan bukan Muslim, terutama orang-orang yang mendiami di Pedalaman Borneo. Istilah ini diberikan oleh orang-orang dari suku atau orang-orang Melayu yang tinggal di daerah pesisir atau pedalaman Kalimantan.
Ketika orang-orang Melayu yang mendiami pesisir Kalimantan memberi cap yang tidak Muslim adalah mereka yang menghuni pedalaman Borneo atau pegunungan. Kemudian muncul pertanyaan, siapakah Melayu? Ketika dilihat dari secara umum, tidak lain, yang disebut suku atau bangsa pada waktu itu adalah orang-orang yang berasal dari daerah Melayu dan berbahasa Melayu atau dapat juga berarti kepada orang Dayak yang telah memeluk Islam.
Bila dilihat dari sudut pandang orang Dayak, Melayu adalah orang-orang yang berasal dari wilayah Melayu dan imigran lain, selain Tiongkok yang sudah hidup di Kalimantan.
Lalu pertanyaan lain, Apakah ada sebuah kata Dayak di bahasa Melayu yang berarti orang gunung?
Sampai sekarang belum pernah ada kamus yang menyatakan bahwa orang-orang Dayak berarti orang gunung.

Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia. Sebelum terkenal dengan nama Kalimantan, sebelumnya pulau ini lebih terkenal dengan nama Borneo. Borneo memiliki banyak cerita, juga tentang Suku Dayak yang tinggal di sana. 

Kehidupan Suku Dayak memang mencuri banyak perhatian dunia luas. Beberapa peneliti dari luar negeri secara khusus pernah datang ke Borneo untuk meneliti suku ini. Salah satunya adalah George Muller yang melakukan ekspedisi dari Mahakam ke Kapuas. 

Nah, soal kehidupan Suku Dayak sendiri, kamu pasti terpesona dengan foto-foto ini. 

Berikut 30 foto menakjubkan Suku Dayak yang dirangkum brilio.net dari akun Facebook Michael Palmieri-Photography, Senin (30/5): 


1. Kakek-kakeknya Suku Dayak yang sekarang ini.



2. Suku Dayak itu masih memiliki banyak suku lain di dalamnya.



3. Model rambutnya keren nih..



4. Ini tengkorak manusia bukan ya?



5. Suku Dayak terkenal dengan tatonya.



6. Lawas banget ya?

Suku di Andaman yang Mengisolasi Diri Hingga Ribuan Tahun

Jika ada sekelompok orang yang memenuhi syarat untuk istilah “Terputus dari Dunia Luar” itu adalah suku Sentinelese. Seperti pribumi pulau Andaman lainnya, mereka telah berhasil hidup selama ribuan tahun di dekat salah satu jalur pelayaran paling kuno namun tetap terhindar dari pengaruh peradaban luar, seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com.

North Sentinel Island
Terletak di Teluk Bengal, kepulauan Andaman telah diketahui dunia luar sejak zaman kuno. Suku-suku di kepulauan Andaman merespon dengan permusuhan yang intens pada setiap upaya kontak yang dilakukan oleh orang dari luar wilayah mereka, dengan melesatkan anak panah, tombak dan batu kepada setiap pengunjung yang beruntung dapat mendekati pantai mereka.
Dokumen Arab dan Persia awal melaporkan bahwa pulau-pulau Andaman dihuni oleh suku-suku ganas. Kemudian penjelajah India dan Eropa menjauhi pulau-pulau ini untuk menghindari suku-suku yang ganas ini.
Marco Polo menyebut mereka “Masarakat yang paling keras dan kejam yang tampaknya memakan semua orang yang mereka tangkap”. Dengan kata lain, selama ratusan tahun di mana seluruh dunia saling menginvasi dan saling menaklukkan satu sama lain, namun suku-suku di kepulauan Andaman ini terhindar dari invasi dan penaklukan karena ketidakramahan kekejaman mereka, sehingga membuat semua penjelajah jaman dahulu memutuskan untuk membiarkan saja kepulauan ini.
Namun lambat laun hal-hal diatas mulai berubah. Selama pemerintahan kolonial Inggris di India dan Burma, pemukiman Eropa yang permanen pertama, koloni hukuman, didirikan pada akhir 1700-an di pulau Andaman Besar. Satu demi satu suku setempat perlahan mulai melepaskan isolasi mereka. beberapa suku punah. Suku terakhir yang akhirnya mau berhubungan dengan dunia luar adalah suku Jarawa, yang melakukan kontak damai pertama dengan pemerintah India pada tahun 1997.

Perbandingan peta yang menunjukkan distribusi suku-suku Andaman di Kepulauan Andaman – awal 1800-an dibandingkan dengan tahun 2004.
(a) depopulasi cepat tenggara tanah air suku Jarawa pada periode 1789-1793
(b) Onge (warna biru) dan penyusutan Andaman Besar untuk pemukiman terisolasi
(c) Suku Jangil punah pada tahun 1931
(d) Jarawa pindah ke pantai barat Andaman Besar
(e) Hanya zona Sentinelese yang agak utuh
Sedangkan suku Sentinelese, penduduk pulau Utara Sentinel kecil, adalah satu-satunya suku yang tersisa di rantai Andaman yang mempertahankan isolasi mereka. Sejak tahun 1967 pemerintah India telah berusaha untuk melakukan kontak damai dengan Sentinelese dibawah naungan penelitian antropologi . “Ekspedisi Kontak” ini terdiri dari serangkaian kunjungan dengan membawa hadiah seperti kelapa dan barang-barang yang diperkirakan dibutuhkan oleh Sentinelese, dengan tujuan untuk membujuk Sentinelese agar menghilangkan adat permusuhan mereka kepada orang luar. Hampir semua upaya ini disambut dengan hujan anak panah dan batu!
Pada tahun 2006, pemanah Sentinelese menewaskan dua orang nelayan yang sedang memancing secara ilegal di dekat pulau mereka, dan mereka juga mengusir helikopter yang dikirim untuk mengambil mayat nelayan dengan hujan panah. Akhirnya pemerintah India mengambil kebijakan untuk membiarkan pulau Sentinel utara tetap tak terganggu. Saat ini tidak ada upaya terencana untuk menghubungi Sentinelese dan akses ke pulau Utara Sentinel dilarang keras.

Perahu nelayan yang direbut Sentinelese karena terlalu dekat dengan pulau mereka
Semua pengetahuan tentang Sentinelese berasal dari pengamatan dari jarak jauh atau dari perbandingan dengan suku-suku kepulauan Andaman lainnya. Mereka diklasifikasikan sebagai Negritos, kelompok yang memiliki keterkaitan jauh dengan masyarakat yang mendiami daerah terisolasi di Asia Tenggara, namun menunjukkan karakteristik fisik seperti yang umumnya ditemukan di Afrika, seperti warna kulit yang sangat gelap dan rambut keriting jagung. Suku Sentinelese kelihatannya lebih tinggi daripada rata-rata orang Andaman lainnya.
Sentinelese tidak mengenakan pakaian, hanya memakai daun, dawai serat atau bahan sejenis sebagai hiasan. Bando yang terbuat dari tanaman merambat tampaknya menjadi mode di kalangan pria. Tidak ada tanda-tanda pertanian di pulau itu. Sebagian besar alat dan senjata mereka terbuat dari batu dan tulang hewan, dan tampaknya suku Sentinelese memanfaatkan kepingan-kepingan logam yang terdampar di pantai mereka.
Populasi pulau Sentinel Utara diperkirakan mencapai 250 orang. Setelah tsunami Samudera Hindia tahun 2004, ada ketakutan bahwa Sentinelese mungkin telah hancur, namun mereka tampaknya telah selamat acara relatif tanpa cedera.

Foto ini diambil tepat setelah Sunami 26 Desember 2004 Dari Helikopter. Tampak Seorang Sentinelese berusaha mengusir Helikopter
Kita Telah lihat bahwa orang-orang Sentinelese ini sehat-sehat dan sepertinya tidak kekurangan apapun. Bahkan mereka bisa selamat dari bencana Sunami 2004 dengan cara mereka sendiri. Jadi sepertinya mereka memang tidak membutuhkan orang luar untuk membantu mereka. Oleh karena itu, mengapa kita tidak menghormati pilihan mereka untuk tidak berhubungan dengan orang luar seperti kita?
Anda bisa lihat Video kontak dengan Sentinelese yang dikatakan “Friendly”, disini
sejarah suku unik uniknya suku di pulau andaman

Misteri Suku Anasazi yang Hilang

Sekitar 200 M, sebuah peradaban menetap di Amerika Utara di daerah yang sekarang dicakup oleh New Mexico, Colorado, Utah, dan Arizona. Mereka disebut Anasazi, suku Indian prasejarah asli Amerika. Mereka bercocok tanam jagung, labu, dan kacang-kacangan. Mereka menenun keranjang dan tembikar panggang. Mereka adalah suku Indian pertama yang tercatat menggunakan busur dan anak panah. Mereka membangun keajaiban arsitektur besar di sisi pegunungan hingga wilayah mereka ditutupi dengan kota tebing dan peternakan yang luas. Tiba-tiba, sekitar 750 tahun yang lalu, seluruh peradaban mereka menghilang, hanya meninggalkan beberapa tubuh yang di mumi kan, beberapa harta benda duniawi mereka dan misteri ….
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Pada tahun 1897 seorang peternak yang mencari sapinya yang telah menyimpang dari kawanan, membuat penemuan mengejutkan: rumah tebing kuno di Colorado. Bangunan-bangunan spektakuler dan artefak-artefak merupakan bukti nyata dari sebuah peradaban maju pernah tinggal di daerah itu dan menghilang. Dalam tahun-tahun berikutnya, penemuan-penemuan lebih besar dibuat, diantaranya penemuan struktur serupa di Utah dan Arizona.
Penemuan-penemuan luar biasa tersebut membuat bingung para peneliti dan sejarawan, bangunan-bangunan yang tidak mereka sangka atau bayangkan ada di wilayah tersebut, ternyata ditemukan, bangunan lima lantai juga ditemukan, hal ini sangat berbeda dengan peradaban dan budaya Indian amerika barat daya lainnya. Salah satu struktur di situs arkeologi, yang kemudian akan disebut Pueblo Bonito, berisi lebih dari 650 kamar.
Pada Chaco Canyon, peneliti menemukan selusin kompleks besar yang mencakup lebih dari 300 struktur berbentuk lingkaran sempurna. Tapi apa tujuan mereka dibangun? Dindingnya ditutupi dengan lukisan-lukisan misterius. Penemuan di Chaco Canyon merupakan temuan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika, para peneliti yakin bahwa tidak ada lagi penemuan di amerika barat daya yang dapat dibandingkan dengan kemegahan dari Chaco Canyon. Arkeolog kagum dengan kekayaan tembikar, senjata, alat-alat, perhiasan; dan setiap potongan karya seni yang ditemukan di sekitarnya.

Pueblo Bonito
Anasazi juga membangun sebuah observatorium astronomi dan menggunakan kalender seremonial untuk merencanakan kehidupan sehari-hari dan ritual mereka. Fenomena lain yang luar biasa adalah sistem jalan yang rumit. Di tempat tinggal mereka, mereka membangun sebuah lubang pusat di lantai, yang mewakili pintu masuk dari bawah (dunia ketiga) ke dunia keempat di Bumi.
Sekitar 20 juta tahun yang lalu, Chaco Canyon adalah pusat dari lautan besar. Setelah laut mundur, satu-satunya hal yang tersisa adalah gurun kering. Tanpa air, unsur utama untuk hidup, bagaimana mungkin peradaban kuno ini telah berkembang di wilayah tersebut? Dan yang paling penting, mengapa mereka membangun kota-kota mereka di wilayah yang tandus seperti itu? Ini hanyalah salah satu dari banyak misteri yang mengganggu yang belum dapat dijawab oleh para arkeolog.
Dinding ngarai adalah sumber utama batu untuk konstruksi mereka, tetapi, dari mana kayu-kayu yang mereka pakai berasal? Menurut arkeolog, pembangunan kota-kota yang luar biasa ini akan membutuhkan lebih dari 250.000 pohon. Jika Anda bepergian ke Chaco Canyon hari ini, Anda akan melihat pemandangan yang benar-benar kering, nyaris tak ada pohon.
Sampel yang diambil dari kayu menunjukkan bahwa material itu berasal bukan dari kawasan itu, beberapa potongan kayu berasal dari jarak lebih dari 50 mil. Untuk proses pemotongan dan ukiran, mereka hanya menggunakan kapak batu. Orang-orang kuno Chaco tidak memiliki gerobak atau kuda untuk mengangkut kayu, jadi bagaimana mereka mengangkut bahan bangunan mereka?
Peradaban Anasazi lebih maju daripada suku-suku Indian lainnya. Gaya Pueblo rumah-rumah mereka tercermin dalam arsitektur modern. Jejak budaya mereka dapat ditemukan dalam budaya suku Hopi, meski itu tidak membuktian bahwa hopi adalah keturunan mereka.
Nama Anasazi sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh suku Indian Navajo yang berarti “Orang kuno yang bukan kami atau berbeda dengan kami.”Rumah-rumah mereka yang permanen, kota-kota dan pertanian mereka sangat kontras dengan semua suku-suku lain di barat daya Amerika. Mereka meninggalkan lukisan batu dan ukiran di seluruh wilayahnya. Mereka meninggalkan tembikar dan alat-alat, tetapi tidak ada penjelasan kemana dan mengapa mereka pergi. Ada banyak teori tentang lenyapnya mereka, baik dari kalangan ilmuwan maupun orang awam, dan semua teori masuk ke dalam tiga kategori dasar.
Teori Kekeringan
Sekitar 1.100 M, ada kekeringan besar melanda daerah di mana Anasazi hidup. Kekeringan ini mungkin yang membunuh seluruh penduduk atau memaksa mereka bermigrasi keluar dari wilayah tersebut. Ketika Anasazi bermukim kembali di daerah yang berbeda, mereka mengubah penampilan mereka, seni, budaya mereka, dan agama mereka. Tapi mungkinkah puluhan ribu Anasazi meninggalkan rumah mereka tanpa membawa peralatan bahkan makanan mereka? Temuan terbaru di bidang iklim menunjukkan bahwa kekeringan besar yang melanda wilayah anasazi tidak separah yang ilmuwan percaya sepuluh tahun yang lalu, tentu saja tidak cukup parah untuk mendorong sebuah peradaban meninggalkan rumah-rumah mereka.
Konflik
Suku-suku lain yang berjumlah lebih besar mungkin telah menyerang Anasazi, membunuh seluruh penduduk mereka yang tersebar di beberapa kota. Namun tidak satupun tanda-tanda bekas pertempuran yang cukup besar untuk menghancurkan suatu bangsa. Mungkinkah para penyerbu tidak menjarah dan merusak kota-kota yang mereka taklukkan? Mereka bahkan tidak mengganggu mayat-mayat yang dikuburkan secara damai dalam kota. Terlebih lagi, mungkinkah para penyerbu membawa membawa pergi ribuan mayat prajurit, wanita dan anak-anak suku anasazi yang tewas mereka bunuh? Tidak ada bukti perang yang mendorong kepunahan anasazi yang pernah ditemukan. Kota-kota tidak menunjukkan ada tanda-tanda bekas pengepungan dan makam-makam tidak pernah digali.
Koneksi Alien
Para ilmuwan mengejek penjelasan yang melibatkan makhluk luar angkasa, tetapi itu tidak membuat para pecinta UFO dan alien patah semangat dalam mengajukan teorinya. Menurut mereka Anasazi bukan satu-satunya peradaban kuno yang menghilang tanpa jejak, mereka adalah salah satu dari bangsa yang hilang seperti Maya, dan pembangun Pulau Paskah. Namun bisakah alien menculik seluruh penduduk? Atau mungkinkah Anasazi adalah alien itu sendiri, yang hidup di wilayah itu selama beberapa generasi sebelum mereka kembali ke dunia asal mereka? Menurut para pecinta teori ini, Peradaban anasazi yang maju membuktikan bahwa mereka sangat berbeda dari setiap penghuni lain dari planet ini, dan eksodus misterius mereka dapat menjadi bukti bahwa mereka tidak meninggalkan rumah mereka, melainkan mereka kembali ke rumah (temat asal) mereka.
Alien atau tidak, situs-situs peninggalan anasazi memiliki cukup kesamaan dengan situs-situs kuno lainnya di seluruh dunia (seperti Stonehenge) yang menunjukkan bahwa Anasazi adalah bagian dari budaya kuno global. Sebagai anggota budaya itu, mereka memiliki pengetahuan tentang astronomi dan pemahaman tentang alam semesta. Hilangnya mereka tetap menjadi misteri.
Jadi bagaimana seluruh peradaban bisa lenyap dari muka bumi, meninggalkan bukti budaya mereka tetapi tidak ada penjelasan dari mana mereka atau kemana mereka pergi? Andalah yang menjadi hakim.
Jangan lupa baca juga mengenai peradaban-peradaban kun yang hilang lenyap tak diketahui rimbanya disini
misteri dunia yang hilang misteri suku laut cerita mistis suku laut suku yang misterius di dunia suku suku yang misterius yang baru ditemukan SUKU SUKU DI DUNIA YG HILANG SECARA MISTERI suku misterius di dunia peradaban aneh peninggalan ufo yang sangat misterius 2016 penemuan mengejutkan